
Lantai 2 yang tersisa dari amukan Tsunami
Pagi itu matahari bersinar redup tapi bukan berarti mendung, aku tak tahu kenapa pagi ini mentari seperti bersedih, seperti melihat sesuatu akan terjadi. Jam 7 pagi orang-orang berolahraga seperti biasa dihari minggu, ada yang jogging, jalan santai ada pula yang menyapu halaman rumah. Panitia road race di depan stadion Dhumurtala Lampineung sebuk menyiapkan pentas dan arena balapan, para gadis payung juga terlihat sudah ada dilokasi.
Jam 8 pagi goyangan kecil terasa tapi tak keras, tak semua orang merasakanya, selang beberap menit ayunan mulai terasa dan semakin lama ayunan semakin keras, isak tangis dan ucapan Allahu Akbar terdengar bersama rasa takut. Suaran bangunan runtuh mulai terdengar menggema, kubah mesjid Al-Makmur Lamprit ambruk. Pagar yang terbuat dari beton pun sudah terlapas dari pondasinya, sepeda motor yang diparkir juga berjatuhan.
Kepala terasa pusing seperti mabuk laut akibat cuaca buruk dalam pelayaran dilaut lepas, 9.8 scala rickter gempa telah mengguncang tanah kelahiran kami. Tak banyak banyak korban akibat dari gempa ini dan tak banyak pula bangunan yang roboh akibat goncangan selama lebih kurang 10 menit.
Baca selengkapnya ‘Jeritan di Pagi Hari’
Popularity: 2%
Lama sudah kita bersama layaknya orang pacaran, kita seharusnya sudah menikah dan membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah. Hubungan ini dimulai akhir tahun 2001 silam dan sampai kini kita tetap bersama walau sudah ganti no gara-gara tsunami dan tambah no untuk layanan lain. Macam orang pacaran aja, gak ada hubungannya tau. Tulisan ini akan mengisahkan tentang sejarah no/simcard simpati nusantara yang saya pakai saat ini. Anda punya sejarahnya juga? ayo dituliskan.
Sedikit berbagi pengalam pada awal-awal menggunakan teknologi baru yang bernama handphone atau HaPe bahasa gaulnya. Pada akhir 2001 silam saya membelikan sabuah HaPe Nokia 8300 dimana pada saat itu HaPe tersebut merupakan seri yang lumayan canggih. SIM Card yang tertanam didalamnya Simpati Nusantara dari Telkomsel yang saya beli dengan harga Rp. 200.000,- dan telah tersisi Rp. 100.000,- pulsa pada saat itu, mahal benar memang kalau kita bandingkan dengan sekarang dimana harga kartu perdana sekarang cuma Rp. 10.000,- (kalau gak salah, karena gak pernah beli sih).
HaPe tersebut sekarang sudah tidak ada lagi, pada 26 Desember 2004 silam dia telah pergi untuk selama-lamanya bersama dengan no/sim card didalamnya dan aku tak tau dimana kuburanya, sungguh sedih. halah macam kehilangan anggota keluarga aja, itu khan cuma HaPe. :p
Baca selengkapnya ‘No Simpati Nusantara – Telkomsel Dalam Kenangan’
Popularity: 48%

Di penghujung tahun 2004, Aceh digoyang gempa dahsyat sebelum kemudian digulung tsunami. Pantai Barat Aceh—dari Simeulue, Meulaboh sampai Banda Aceh dan sebagian Sigli—mengalami kerusakan parah. Sekitar 170 ribu jiwa melayang seketika. Dunia tercengang ketika itu.
Desakan internasional memaksa pemerintah Indonesia membuka isolasi politik akibat konflik bersenjata yang panjang di Aceh. Tidak lama kemudian, berbondong-bondong orang dari ujung Indonesia dan dunia datang ke Aceh untuk melihat dampak kerusakan akibat tsunami, serta memberikan bantuan kepada masyarakatnya. Mantan Secretary of State AS Collin Powell yang datang beberapa hari setelah tsunami menyatakan dia belum pernah melihat kehancuran seperti yang terjadi di Aceh.
Baca selengkapnya ‘Museum Tsunami, Museum Sampah’
Popularity: 15%