Tag Archive for 'Tangse'

Jak U Blang Pidie

IMG_2930Melanjutkan cerita pada tulisan sebelumnya akan saya mulai dengan perjalanan dari Geumpang ke Blang Pidie, Aceh Barat Daya. Setelah aksi narsisme dengan dengan penjual pisang goreng, perjalanan dilanjutkan kembali. Rute Geumpang – Meulaboh ternyata jalanannya lebih extrim lagi. Jalan yang sempit tanpa pembatas yang dihimpit perbukitan dan jurang membuat hati was-was dan terasa sangat lama sampainya. Hal ini diperparah lagi dengan hujan dan kabut tebal yang hanya bisa di tembus mata telanjang dengan jarak 10 meter.

Dengan kecepatan lambat tapi pasti kami habiskan senja dijalanan sebelum mengisi bensin di kecamatan Johan Pahlawan Aceh Barat. Setelah isi bensin kami coba menghubungi blogger Meulaboh, Citra Rahman untuk menanyakan rekomndasi tempat makan malam. Setelah berbicara panjang lebar Citra menawarkan ayam penyek sebagai menu makan malam. Dalam hati saya menggurutu “ngapain jauh-jauh ke Meulaboh kalau hanya makan ayam penyek, di Banda Aceh juga ada”, saya menanyakan apakah tidak ada makanan special di Meulaboh? Namun karena malan, untuk mencari makanan special tentunya susah. ya… maklumlah.


Baca selengkapnya ‘Jak U Blang Pidie’

Popularity: 2%

Tangse dan Geumpang yang Indah

Rimbunan hutan menemani hampir sepanjang perjalanan ditambah hujan deras dan jalan yang sempit plus dihimpit oleh bukit rawan longsor dan jurang yang terjal  membuat hati sedikit gundah diperjalanan.  Namun semua ini dipatahkan oleh semangat yang kuat untuk saling berbagi, melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada teman-teman lain. Perjalanan ini dilakukan dalam rangka pelatihan menulis, blogging dan perkenalan situs acehpedia.org di Kabupten Aceh Barat Daya.
Berangkat dari Banda Aceh jam ± 11.00  pada hari Juma’t, singgah di Sare untuk shalat Zuhur dan makan siang dilanjutkan menuju Beureunun. Sesampai di Sigli menyempatkan diri untuk beli Ranub Mameh (sirih manis) kesukaan Adikcilak. Tak lama disana langsung tanjap gas karena Tengku Muda sudah menunggu lama di Lamloe dengan salah satu blogger wilayah Tangse, Pak Syukri.
Namun perjalanan ini terpaksa dihentikan sebentar di Beureuenun untuk membeli keperluan perbaikan kecil kendaraan, Tanpa berlama-lama perjalanan dilanjutkan menuju Lamloe untuk menjemput Tengku Muda dan memperbaiki kaca spion yang rusak. Mobil yang dirental ternyata tidak sesuai harapan, kaca spion rusak, AC tidak berjalan dan yang paling parah tidak ada radionya. Sungguk menyiksa melakukan perjalanan jauh tanpa ditemani musik. Oh donya…..
Selesai perbaiki kaca spion dan diskusi sedikit dengam Pak Syukri, tancap gas menuju kota selanjutnya. Hamparan sawah sepanjang perjalan dari Lamlo-Keumala-Tangse membuat saya tercengang. Belum pernah saya lihat hamparan sawah yang beitu luas dikiri-kanan jalan sebelumnya, sungguh pemandangan yang luar biasa bagi saya.
Sesampai di Tangse kami sempat berhenti sebentar untuk mengambil foto dengan latar hamparan sawah yang luas dan perbukitan mehimpitnya, awan biru dan sungai menambah keindahan Tangse dilihat dari atas bukit. Kami sempat berandai-anda untuk mendirikan villa disana apabila bisnis kami berjalan lancar. Ada juga kelakar dari teman-teman yang ditujukan kepada saya untuk mencari calon pedamping hidup dari Tangse, untuk hal ini memang dari jauh-jauh hari sudah dipikirkan, ada rekomendasi? hahaha.
20 Menit lebih sudah berjalan namun masih saja ingin berlama-lama, tapi waktu yang mepet terpaksa kami tinggal pemandangan yang baitu indah menuju kota selanjutnya Geumpang. Namun dasar menusia yang tidak bisa melihat hal-hal baru, ditengah perjalanan kami kembali berhenti untuk sekedar mencoba jembatan tali. Jembatan tali terletak antara 2 pinngir sungai yang digunakan penduduk setempat untuk menyebrang.
Kami mencoba menaikinya sambil foto-foto. Dasar kawan-kawan usil, selagi saya naik mereka mengayun-ayun dengan kencang membuat saya hampir manangis ketakutan, meraka tertawa lepas senang melihat penderitaan saya. Setelah puas menaiki jembatan tali, perjalananpun dilanjutkan. Geumpang menajadi termapt singgah berikutnya untuk shalat Ashar.
Setelah selesai shalat kami mencari makanan ringan untuk membunuh suntuk dan rasa pahit dimulut. Pas dipen mesjid ada gadis  yang menjual pisang goreng, tanpa buang-buang waktu kami mulai melahap pisang goreng ditengah-tengah hutan dengan cuaca hujab rintik-rintik, sungguh enak.  Perjalanan masih panjang, tunggu kelanjutan artkel ini.
Ranuh Mameh Sigli

Ranuh Mameh Sigli

Rimbunan hutan menemani hampir sepanjang perjalanan ditambah hujan deras dan jalan yang sempit plus dihimpit oleh bukit rawan longsor dan jurang yang terjal  membuat hati sedikit gundah diperjalanan.  Namun semua ini dipatahkan oleh semangat yang kuat untuk saling berbagi, melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada teman-teman lain. Perjalanan ini dilakukan dalam rangka pelatihan menulis, blogging dan perkenalan situs acehpedia.org di Kabupten Aceh Barat Daya.

Berangkat dari Banda Aceh jam ± 11.00  pada hari Juma’t, singgah di Sare untuk shalat Zuhur dan makan siang dilanjutkan menuju Beureunun. Sesampai di Sigli menyempatkan diri untuk beli Ranub Mameh (sirih manis) kesukaan Adikcilak. Tak lama disana langsung tanjap gas karena Tengku Muda sudah menunggu lama di Lamloe dengan salah satu blogger wilayah Tangse, Pak Syukri.

Namun perjalanan ini terpaksa dihentikan sebentar di Beureuenun untuk membeli keperluan perbaikan kecil kendaraan, Tanpa berlama-lama perjalanan dilanjutkan menuju Lamloe untuk menjemput Tengku Muda dan memperbaiki kaca spion yang rusak. Mobil yang dirental ternyata tidak sesuai harapan, kaca spion rusak, AC tidak berjalan dan yang paling parah tidak ada radionya. Sungguk menyiksa melakukan perjalanan jauh tanpa ditemani musik. Oh donya…..
Baca selengkapnya ‘Tangse dan Geumpang yang Indah’

Popularity: 8%