Masih ingat etnik Rohingya? Manusia perahu yang terdampar di perairan Aceh, kemudian diselamatkan oleh nelayan kita, 193 orang di Sabang dan 220 di Idi, bahkan 22 lainya tewas dan dibuang ke laut ketika masih terkatung-katung di laut. Sedih bukan?
Saya harap Anda masih mengingatnya!
Rohingya etnik di negara Burma. Namun, tahun 1989 Burma berubah nama menjadi Myanmar dan Rohigya pun tak terdaftar sebagai etnik di negaranya. Dari 137 etnik yang diakui di Myanmar, muslim Rohingya tak pernah mendapatkan pengakuan sebagai warga dalam sebuah negara.
Dalam kasus ini, Etnis Rohingya disebut sebagai Stateless and Forgotten People (warga tanpa kewarganegaraan dan dilupakan) oleh kalangan aktivis.
Manusia perahu bukan pilihan
Terusir dari negerinya dan menjadi manusia perahu (boat people) bukan pilihan. Sekitar 1200 warga Rohingya meninggalkan Myanmar pada bulan Desember 2008 menuju Thailand. Rahmat, salah seorang warga Myanmar yang sedikit fasih berbahasa Melayu, mengatakan umumnya mereka beragama Islam yang sebelumnya bekerja di Thailand. “Namun oleh Pemerintah Thailand, tanpa alasan yang jelas kami dikumpulkan dan dibawa ke sebuah pulau. Selanjutnya kami dihanyutkan dengan perahu yang rata-rata berukuran 20×5 meter,” sebutnya.
Baca selengkapnya ‘Eh, Muslim Rohingya Dilupakan lagi?’
Popularity: 8%

Prosesi serah terima bantuan
Sabtu, 21 Februari 2009 jam 12.15 WNAD proses belanja selesai dengan dilanjutkan dengan mengantar bantuan menggunakan becak mesin dua trip, proses mengantar barang membutuhkan waktu lebih kurang 30 menit karena letak tempat kami berbelanja dengan lokasi kamp hanya berpaut 1 KM. Setelah barang bantuan sampai semua kami harus menunggu lagi karena para pengungsi sedang melaksanakan shalat Zuhur, kami sengaja menunggu mereka selesai melaksanakan shalat dan doa bersama.
Selesai mereka shalat panitia memanggil beberapa orang pungungsi untuk menyaksikan proses serah terima bantuan masyarakat Aceh yang dikumpulkan oleh Aceh Blogger Community, Aceh Linux Activist (KPLI-Aceh) dan turut dibantu oleh kawan-kawan dari Komunitas Teknologi Informasi, Akademi Manajeman Informatika dan Komputer Indonesia (KTI-AMIKI). Kami lagi-lagi harus menunggu karena ketua panitia yang sekaligus camat Idi Rayeuk sedang menelpon, lama kami menunggu pak camat tak selesai juga menelpon, mungkin ada bisnis penting, entahlah.
Koordinator lapangan yang berada ditempat beberapa kali memberitahukan kepada pak camat akan hal ini, tapi tak pak camat hanya mengangkat tangan saja tanda isyarat tunggu sebentar. Untuk ketiga kali korlap memanggil pak camat yang akhirnya dari mulut pak camat keluar kata-kata diwakilkan saja. Ah dalam hati saya kenapa tidak ngomong dari tadi…., Tanpa menunggu lama saya pun mengangkat satu kardus biskuit unibis yang telah ditempel kertas bertuliskan “Bantuan Masyarakat Aceh Melalui Aceh Blogger Dan KPLI Aceh”. Saya dan korlap berjabat tangan sebagai pertanda serah terima bantuan selesai dilaksanakan yang turut di abadikan oleh Idrus dan relawan dari CMC dan PCC.
Baca selengkapnya ‘Hand Over Assistance to Rohingya Refugees’
Popularity: 9%

Uang yang telah dihitung dan dirapikan siap untuk bertransaksi
Sore tepat 20 Februari kemarin, sekitar jam 18.15 menjelang magrib, saya dan Idrus berdua meninggalkan kota Banda Aceh menuju Idi Rayeuk, Aceh Timur dengan satu tujuan mendistribusikan bantuan dari masyarakat Aceh yang dikumpulkan oleh kawan-kawan Aceh Blogger Community (ABC) dan Aceh Linux Activist (KPLI-Aceh) dalam aksi turun kejalan selama 3 hari. Perjalanan ini sendiri menggunakan sepeda motor dengan jarak tempuh 350 KM lebih dan memakan waktu 9 jam dengan kecepatan rata-rata 80KM/Jam.
Perjalanan dimalam hari sempat membuat saya sedikit was-was selama perjalanan, Bagimana tidak kondisi keamanan sedikit rawan menjelang pemilu 2009 di Aceh. Kami Shalat Magrib di sekitar Indrapuri, walau sedikit telat tapi InsyaAllah kewajiban terlaksana juga. Setelah Shalat perjalan kami lanjutkan dan mengisi bensin di Saree. Dengan kecepatan rendah kami lanjutkan perjalanan untuk makan malam dan Shalat Insya di Saree tapi pada lokasi yang berbeda yaitu di kawasan gajah kata orang-orang.
Rute ketiga yang kami tempuh lumayan jauh, dari Saree baru berhenti sebentar di Beureuenun untuk beli sarung tangan gara-gara kedinginan yang tak tertahankan. Tak lama kami di Beureunun lansung tancap gas dan transit di Matang Glumpang Dua sambil menikmati segelas teh hangat. perjalanan kami lanjutkan walau terasa tak sanggup lagi, mata terasa perih karena kaca penutup helm harus dibuka agar jalanan tampak jelas, hal ini juga mempengaruhi laju kecepatan kami, belum lagi binatang kecil yang berterbangan disepanjang jalan. Berat memang perjalanan malam hari, tapi semangat kami tak kendur untuk segera bertemu dengan saudara-saudara kami.
Baca selengkapnya ‘Road to Idi Reyuek’
Popularity: 9%
Aksi yang kami lakukan memasuki hari kedua, tanpa rasa pamrih kami terus bergerak disudut persimpangan jalan dan terkapar kelelahan dibawah terik matahari sore hari. Itu semua tak membuat kami menyerah, kami akan terus melangkah demi nilai-nilai kemanusian, membantu kaum lemah, membantu mereka yang terusir dari tanah kelahirannya. Cuma satu tekat menyelamatkan kaum rohingya yang di zolimi juta militer Myanmar.
Kami memang sedikit, tapi kami peduli
Awal pagi menjalankan rutinitas seperti biasa, ke kantor mencari sesuap nasi segengam berlian, he..he. Tapi hari ini aku khawatir tidak bisa melakukan aksi di jalanan bersaing dengan pengemis dipersimpangan jalan karena ada agenda kantor yang harus aku ikuti. Aku pasrah….. Pagi terlewatkan, siangpun tiba, setelah selesai menyelesaikan setting beberapa keperluan untuk agenda kantor waktu istirahat telah tiba, aku teringat akan kawan-kawan di jalanan yang berpeluh, tanpa pikir panjang lansung saja tancap gas ke simpang 5 Banda Aceh.
Baca selengkapnya ‘Hari ke Dua di Jalanan’
Popularity: 5%
Awal pagi di hari rabu 11 Feb 2009, Kami bergerak perlahan, menyiapkan kardus, menempel poster yang telah kami siapkan dimalam hari. Kami berpencar menuju sudut persimpangan jalan, sambil berdoa kami berharap uluran tangan dari para pengguna jalan. Demi nilai-nilai kemanusian mari kita jalankan misi ini……..

Ozank memperlihat poster sambil menebar senyum
Baca selengkapnya ‘Kami Sedikit, Tapi Kami Peduli’
Popularity: 13%