Tag Archive for 'budaya aceh'

Sukee

Tengku Adli Abdullah memperlihatkan sertifikat/surat wakaf Rumoh Aceh (Baitul Ashy) dari pemerintah Arab Saudi

Artikel ini bisa dikatakan sebuah pelampiasan atas pencarian yang begitu lama terhadap makna bait lirik lagu Rafli dengan judul Sukee 300, petualangan pencarian makna tersebut sudah sangat lama saya lakukan walau tidak terfokus, namun bila ada orang yang saya anggap tepat maka selalu saya pertanyakan makna dari bait lirik lagu tersebut. Banyak orang yang saya tanyakan mulai dari teman-teman sampai orang yang  tidak dikenal namun memiliki kesempatan untuk bertanya tidak saya sia-siakan, namun belum menumukan jawaban yang bisa saya terima.

Petualangan tersebut diakhiri dengan menemukan sebuah jawaban yang  masuk akal (menurut pandangan saya) dari pakarnya Tengku Adli Abdullah. Kunjungan singkat ke kediaman Adli Abdullah didasari atas keinginan teman-teman Aceh Blogger yang menjadi pengelola website ensiklopedia daring Acehpedia.org untuk menggali lebih jauh sejarah Aceh dari pakarnya. Ide awal sebelum berjumpa hanya ingin mengetahui lebih jauh tentang hukom adat laoet yang berlaku dalam masyarakat Aceh yang kebetulan Adli Abdulla adalah panglima laot Aceh. Perbincangan tentang hukom adat laot hanya sempat dipertanyakan namun Adli menjawab itu hanya hal kecil, kita bicarakan masalah sejarah Aceh saja. Continue reading ‘Sukee’

Popularity: 2%

Mee Bu Dalam Adat Aceh

Sumber foto: cipugaponsel.blogspot.com

Sumber foto: cipugaponsel.blogspot.com

Upacara mee bu (mengantar nasi) sering juga disebut dengan upacara ba bu. Menurut adat masyarakat Aceh dara baro (pengantin perempuan) yang sudah hamil harus dikunjungi oleh mak tuan (mertua) dari pihak linto baro (pengantin laki-laki) dengan membawa bu kulah, yaitu nasi yang dibungkus dengan daun pisang berbentuk pyramid. Upacara ini dilangsungkan setelah selesai upacara tangkai atau masa umur kandungan 7 bulan sampai 8 bulan.

Untuk upacara ini bahan yang perlu dipersipakan berupa bu kulah dan lauk pauk yang terdiri dari ikan, daging ayam panggang, dan burung yang dipanggang. Bahan-bahan ini dimasukkan kedalam dua buah kateng (katil). Kateng pertama diisi dengan bu kulah dan kateng kedua diisi dengan lauk pauk. Bu leukat (nasi ketan) dan kue-keu masing-masing dimasukkan dalam sebuah talam (baki).

Selain bahan-bahan diatas mertua menyediakan juga sirih setapak (bahan-bahan sirih) pakaian sesalin (satu salin) dan uang alakadarnya. Bahan-bahan ini akan diberikan kepada bidien (bidan) sebagai tanda penyerahan tanggung jawab untuk merawat kelahiran bayi. Bahan-bahan pemberian ini disebut dengan peunulang. Semua bahan peuneulang diisi dalam sebuah baki.

Continue reading ‘Mee Bu Dalam Adat Aceh’

Popularity: 3%