Cover Buku “Aceh Pungo” Source: Fauzan
”Bagimana kalau pemerintah Aceh melalui UUPA melakukan investasi di luar negeri dengan membeli salah satu klub sepak bola liga inggris seperti Menchester City seharga 200 juta poundsterling (Rp. 3,4 triliun)”
Kutipan diatas merupakan ide yang menurut penulisnya gila, tapi menurut saya ini ide brilian, bagaimana tidak, dana APBA tahun 2008 8,5 triliun diperkirakan akan tersisa 5 triliun rupiah yang tentunya harus dikembalikan ke kas negara. Daripada mengembalikan alangkah baikanya beli saja salah satu klub sepak bola liga inggris tersebut yang tentunya akan membawa pamor bagi Aceh yang juga akan mencitrakan Aceh lebih baik ke mata internasional.
Didalam bukunya penulis banyak melakukan kritik yang menusuk tapi sopan dengan perumpamaan-perumpaman logis dan mudah dicerna. Budaya Aceh kesehariaan sangat menonjol ditampilakn, mulai hal kecil sampai dengan politik tingkat atas. Saya sendiri setelah membaca buku ini baru sadar begitu banyak budaya-budaya aceh yang telah ditinggalkan oleh masyarakatnya termasuk saya.
Baca selengkapnya ‘Review Buku “Aceh Pungo”’
Popularity: 11%

Prosesi serah terima bantuan
Sabtu, 21 Februari 2009 jam 12.15 WNAD proses belanja selesai dengan dilanjutkan dengan mengantar bantuan menggunakan becak mesin dua trip, proses mengantar barang membutuhkan waktu lebih kurang 30 menit karena letak tempat kami berbelanja dengan lokasi kamp hanya berpaut 1 KM. Setelah barang bantuan sampai semua kami harus menunggu lagi karena para pengungsi sedang melaksanakan shalat Zuhur, kami sengaja menunggu mereka selesai melaksanakan shalat dan doa bersama.
Selesai mereka shalat panitia memanggil beberapa orang pungungsi untuk menyaksikan proses serah terima bantuan masyarakat Aceh yang dikumpulkan oleh Aceh Blogger Community, Aceh Linux Activist (KPLI-Aceh) dan turut dibantu oleh kawan-kawan dari Komunitas Teknologi Informasi, Akademi Manajeman Informatika dan Komputer Indonesia (KTI-AMIKI). Kami lagi-lagi harus menunggu karena ketua panitia yang sekaligus camat Idi Rayeuk sedang menelpon, lama kami menunggu pak camat tak selesai juga menelpon, mungkin ada bisnis penting, entahlah.
Koordinator lapangan yang berada ditempat beberapa kali memberitahukan kepada pak camat akan hal ini, tapi tak pak camat hanya mengangkat tangan saja tanda isyarat tunggu sebentar. Untuk ketiga kali korlap memanggil pak camat yang akhirnya dari mulut pak camat keluar kata-kata diwakilkan saja. Ah dalam hati saya kenapa tidak ngomong dari tadi…., Tanpa menunggu lama saya pun mengangkat satu kardus biskuit unibis yang telah ditempel kertas bertuliskan “Bantuan Masyarakat Aceh Melalui Aceh Blogger Dan KPLI Aceh”. Saya dan korlap berjabat tangan sebagai pertanda serah terima bantuan selesai dilaksanakan yang turut di abadikan oleh Idrus dan relawan dari CMC dan PCC.
Baca selengkapnya ‘Hand Over Assistance to Rohingya Refugees’
Popularity: 9%

Uang yang telah dihitung dan dirapikan siap untuk bertransaksi
Sore tepat 20 Februari kemarin, sekitar jam 18.15 menjelang magrib, saya dan Idrus berdua meninggalkan kota Banda Aceh menuju Idi Rayeuk, Aceh Timur dengan satu tujuan mendistribusikan bantuan dari masyarakat Aceh yang dikumpulkan oleh kawan-kawan Aceh Blogger Community (ABC) dan Aceh Linux Activist (KPLI-Aceh) dalam aksi turun kejalan selama 3 hari. Perjalanan ini sendiri menggunakan sepeda motor dengan jarak tempuh 350 KM lebih dan memakan waktu 9 jam dengan kecepatan rata-rata 80KM/Jam.
Perjalanan dimalam hari sempat membuat saya sedikit was-was selama perjalanan, Bagimana tidak kondisi keamanan sedikit rawan menjelang pemilu 2009 di Aceh. Kami Shalat Magrib di sekitar Indrapuri, walau sedikit telat tapi InsyaAllah kewajiban terlaksana juga. Setelah Shalat perjalan kami lanjutkan dan mengisi bensin di Saree. Dengan kecepatan rendah kami lanjutkan perjalanan untuk makan malam dan Shalat Insya di Saree tapi pada lokasi yang berbeda yaitu di kawasan gajah kata orang-orang.
Rute ketiga yang kami tempuh lumayan jauh, dari Saree baru berhenti sebentar di Beureuenun untuk beli sarung tangan gara-gara kedinginan yang tak tertahankan. Tak lama kami di Beureunun lansung tancap gas dan transit di Matang Glumpang Dua sambil menikmati segelas teh hangat. perjalanan kami lanjutkan walau terasa tak sanggup lagi, mata terasa perih karena kaca penutup helm harus dibuka agar jalanan tampak jelas, hal ini juga mempengaruhi laju kecepatan kami, belum lagi binatang kecil yang berterbangan disepanjang jalan. Berat memang perjalanan malam hari, tapi semangat kami tak kendur untuk segera bertemu dengan saudara-saudara kami.
Baca selengkapnya ‘Road to Idi Reyuek’
Popularity: 9%
Setelah sekian lama mati suri tak bernafas alias koma, server nanggroe.com yang baru saja dipindahkan dari Virtual Private Server (VPS) ke dedicate server akhirnya online juga walaupun ada beberapa fitur belum aktif, tapi sekurang-kurangnya sudah bisa diakses untuk saat ini. Untuk layanan free blog service sudah bisa digunakan kembali tanpa ada kendala.
Bagi kawan-kawan yang ingin mebuat account blog sekarang regitrasinya juga telah dibuka kembali, jadi tunggu apa lagi? sub domain cantik dengan nama anda masih menunggu. terlambat sedikit akan menjadi milik orang lain.
Proses pemindahan server ini tidak berjalan sebagaimana telah direncanakan, yang menyebabkan down nya nanggroe.com untuk beberapa minggu. Hal ini disebakan oleh bug yang ada pada fedora core 8 bawaan server. Setelah melihat perkembangan OS yang tidak stabil maka tim teknis nanggroe.com memutuskan untuk menginstall Centos 5.2 sebagai OS servernya. Proses instalasi berjalan lancar, tidak ada kendala yang berarti, thanks Alie.
Baca selengkapnya ‘Nanggroe.com kembali online’
Popularity: 6%
Ini merupakan sebuah pesan yang saya terima di facebook. Semoga bisa membantu saudara-saudara kita yang terbuang dari negerinya sendiri.
Bersama dengan ini, kami dari lembaga kemanusian People’s Crisis Centre (PCC-Aceh) mengajak semua kawan-kawan semua untuk memberikan solidaritas kepada 193 pengungsi asal Burma yang saat ini terdampar di pulau weh (sabang).
Mereka merupakan pengungsi antar Negara yang terpaksa keluar dari negaranya, karena mereka tidak merasa aman di negaranya.
kondisi mereka mengingatkan kita, terhadap kondisi krisisi kemanusian yang terjadi di Aceh akibat konflik yang berkepanjangan.
Oleh sebab itu kami mengajak kepada kawan-kawan memberikan solidaritas dalam bentuk, baju, peralatan ibadah, sarung selimut, dan hal lainnya yang menurut kawan-kawan bisa membantu beban mereka.
bantuan tersebut bisa di kirim ke kantor People’s Crisis Centre – PCC Aceh, Jalan Mujur, lrng, sentosa, N0 73, Lam Lagang. Telpon 0651-45640, atau di no Hp : iskandar (081360574704), Andi Rizal (081360826304) atau Syahril Sp.d (08126970702).
Popularity: 7%