Sangat bijak opini Muhammad Firmansyah di harian serambi indonesia edisi 6 mei 2010 dalam menyikapi permasalahan menjamurnya odong-odong di bandar wisata islami Banda Aceh. Win-win solution yang ditawarkan layak mendapatkan pertimbangan pemerintah kota Banda Aceh yang digawangi oleh Ir. Mawardy Nurdin, M.Eng, Sc.
Bisnis masyarakat kelas bawah dengan pengguna jasa bisnis tersebut dari berbagai level strata ekonomi ini sedikit banyak telah memberikan lapangan kerja baru, betapa tidak setiap odong-odong sekurang-kurangnya akan menampung 2 tenaga kerja, satu sebagai supir dan satu kondektur/kernet.
Lain orang lain pula cara pandangnya, ada sebagaian orang melihat kehadiran odong-odong telah menggangu arus lalulintas karena odong-odong berjalan lambat dan bertubuh panjang. Namun hal ini bisa dicegah dengan mengarahkan rute perjalanan odong-odong pada jalan-jalan yang tidak padat dan larangan beroperasi pada saat-saat jam masuk, istirahat dan pulang kantor. Karena kepadatan lalulintas kota Banda Aceh hanya terjadi 3 kali dalam sehari pada waktu-waktu sebagaimana disebutkan diatas.
Continue reading ‘Odong-odong Enak Dong’
Popularity: 3%









