Monthly Archive for February, 2009

Flu Burung Ternyata Rekayasa Senjata Biologi AS & WHO

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health
Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS).
Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam
mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).

Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari
negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di
negara berkembang, termasuk Indonesia .

Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan
Tuhan di Balik Virus Flu Burung.
Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama
dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It’s Time for the World to Change.
Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara
mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung.
“Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan
menjual vaksin ke negara kita,” ujar Fadilah kepada Persda Network di
Jakarta , Kamis (21/2).

Situs berita Australia , The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan,
Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari
penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata
biologi.
Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari
petinggi WHO.

“Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul
apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga
kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat
Freeport , dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya,” ujarnya.
Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing
1.000eksemplar untuk cetakan bahasa
Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku.
“Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak
cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan
kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan
penerbitan besar,” katanya.
Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950,
mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua.

“Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua
bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya
dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang
saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush,” ujar
menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.

Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyonoyang memintanya menarik buku dari peredaran.
“Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia , sebagian, sekitar 500
buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa
Inggris dijual,” katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku
dari peredaran.

Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa
senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182
halaman itu.

Mengubah Kebijakan

Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia.
Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan
WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai
selama 50 tahun.

Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di
Indonesia pada 2005.
Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak
yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.
“Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih
berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman
virus flu burung, yaitu transparansi, ” tulis The Economist.

The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan
lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu
burung 2005 silam.

Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru
diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.
Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan
diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong
memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen.

Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium
litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO
CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?

Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di
Vietnam . Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan
dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian
dibuat bibit virus.

Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta,
pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju,
negara kaya, yang tak terkena flu burung.

Mereka mengambilnya dari Vietnam , negara korban, kemudian menjualnya ke
seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.
Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat
negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza
Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah
menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110
negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.

Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi
vaksin.
Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para
ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC.
Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico ,
AS.
Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya
tak diketahui.
Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS.
Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima . Lalu untuk apa data itu,
untuk vaksin atau senjata kimia?

Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA
virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.
Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data
itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos ,
memujinya.

Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi
transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC
agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia , yang konon telah ditempatkan di
Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.

Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran
virus yang adil,transparan, dan setara.
Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus
yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik
dan membahayakan dunia.

Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap
menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan
Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di
akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui
dan GISN dihapuskan.

Popularity: 8%

Review Buku “Aceh Pungo”

Cover Buku Aceh Pungo Source: Fauzan    Cover Buku “Aceh Pungo” Source: Fauzan

 ”Bagimana kalau pemerintah Aceh melalui UUPA melakukan investasi di luar negeri dengan membeli salah satu klub sepak bola liga inggris seperti Menchester City seharga 200 juta poundsterling (Rp. 3,4 triliun)” 

Kutipan diatas merupakan ide yang menurut penulisnya gila, tapi menurut saya ini ide brilian, bagaimana tidak, dana APBA tahun 2008 8,5 triliun diperkirakan akan tersisa 5 triliun rupiah yang tentunya harus dikembalikan ke kas negara. Daripada mengembalikan alangkah baikanya beli saja salah satu klub sepak bola liga inggris tersebut yang tentunya akan membawa pamor bagi Aceh yang juga akan mencitrakan Aceh lebih baik ke mata internasional. 

Didalam bukunya penulis banyak melakukan kritik yang menusuk tapi sopan dengan perumpamaan-perumpaman logis dan mudah dicerna. Budaya Aceh kesehariaan sangat menonjol ditampilakn, mulai hal kecil sampai dengan politik tingkat atas. Saya sendiri setelah membaca buku ini baru sadar begitu banyak budaya-budaya aceh yang telah ditinggalkan oleh masyarakatnya termasuk saya.

Continue reading ‘Review Buku “Aceh Pungo”’

Popularity: 12%

Hand Over Assistance to Rohingya Refugees

Prosesi serah terima bantuan

Prosesi serah terima bantuan

Sabtu, 21 Februari 2009 jam 12.15 WNAD proses belanja selesai dengan dilanjutkan dengan mengantar bantuan menggunakan becak mesin dua trip, proses mengantar barang membutuhkan waktu lebih kurang 30 menit karena letak tempat kami berbelanja dengan lokasi kamp hanya berpaut 1 KM. Setelah barang bantuan sampai semua kami harus menunggu lagi karena para pengungsi sedang melaksanakan shalat Zuhur, kami sengaja menunggu mereka selesai melaksanakan shalat dan doa bersama.

Selesai mereka shalat panitia memanggil beberapa orang pungungsi untuk menyaksikan proses serah terima bantuan masyarakat Aceh yang dikumpulkan oleh Aceh Blogger Community, Aceh Linux Activist (KPLI-Aceh) dan turut dibantu oleh kawan-kawan dari Komunitas Teknologi Informasi, Akademi Manajeman Informatika dan Komputer Indonesia (KTI-AMIKI). Kami lagi-lagi harus menunggu karena ketua panitia yang sekaligus camat Idi Rayeuk sedang menelpon, lama kami menunggu pak camat tak selesai juga menelpon, mungkin ada bisnis penting, entahlah.

Koordinator lapangan yang berada ditempat beberapa kali memberitahukan kepada pak camat akan hal ini, tapi tak pak camat hanya mengangkat tangan saja tanda isyarat tunggu sebentar. Untuk ketiga kali korlap memanggil pak camat yang akhirnya dari mulut pak camat keluar kata-kata diwakilkan saja. Ah dalam hati saya kenapa tidak ngomong dari tadi…., Tanpa menunggu lama saya pun mengangkat satu kardus biskuit unibis yang telah ditempel kertas bertuliskan “Bantuan Masyarakat Aceh Melalui Aceh Blogger Dan KPLI Aceh”. Saya dan korlap berjabat tangan sebagai pertanda serah terima bantuan selesai dilaksanakan yang turut di abadikan oleh Idrus dan relawan dari CMC dan PCC.

Continue reading ‘Hand Over Assistance to Rohingya Refugees’

Popularity: 9%

Road to Idi Reyuek

Uang yang telah dihitung dan dirapikan siap untuk bertransaksi

Sore tepat 20 Februari kemarin, sekitar jam 18.15 menjelang magrib, saya dan Idrus berdua meninggalkan kota Banda Aceh menuju Idi Rayeuk, Aceh Timur dengan satu tujuan mendistribusikan bantuan dari masyarakat Aceh yang dikumpulkan oleh kawan-kawan Aceh Blogger Community (ABC) dan Aceh Linux Activist (KPLI-Aceh) dalam aksi turun kejalan selama 3 hari. Perjalanan ini sendiri menggunakan sepeda motor dengan jarak tempuh 350 KM lebih dan memakan waktu 9 jam dengan kecepatan rata-rata 80KM/Jam.

Perjalanan dimalam hari sempat membuat saya sedikit was-was selama perjalanan, Bagimana tidak kondisi keamanan sedikit rawan menjelang pemilu 2009 di Aceh. Kami Shalat Magrib di sekitar Indrapuri, walau sedikit telat tapi InsyaAllah kewajiban terlaksana juga. Setelah Shalat perjalan kami lanjutkan dan mengisi bensin di Saree. Dengan kecepatan rendah kami lanjutkan perjalanan untuk makan malam dan Shalat Insya di Saree tapi pada lokasi yang berbeda yaitu di kawasan gajah kata orang-orang.

Rute ketiga yang kami tempuh lumayan jauh, dari Saree baru berhenti sebentar di Beureuenun untuk beli sarung tangan gara-gara kedinginan yang tak tertahankan. Tak lama kami di Beureunun lansung tancap gas dan transit di Matang Glumpang Dua sambil menikmati segelas teh hangat. perjalanan kami lanjutkan walau terasa tak sanggup lagi, mata terasa perih karena kaca penutup helm harus dibuka agar jalanan tampak jelas, hal ini juga mempengaruhi laju kecepatan kami, belum lagi binatang kecil yang berterbangan disepanjang jalan. Berat memang perjalanan malam hari, tapi semangat kami tak kendur untuk segera bertemu dengan saudara-saudara kami.
Continue reading ‘Road to Idi Reyuek’

Popularity: 9%

Hari ke Dua di Jalanan

Aksi yang kami lakukan memasuki hari kedua, tanpa rasa pamrih kami terus bergerak disudut persimpangan jalan dan terkapar kelelahan dibawah terik matahari sore hari. Itu semua tak membuat kami menyerah, kami akan terus melangkah demi nilai-nilai kemanusian, membantu kaum lemah, membantu mereka yang terusir dari tanah kelahirannya. Cuma satu tekat menyelamatkan kaum rohingya yang di zolimi juta militer Myanmar.

Kami memang sedikit, tapi kami peduli

Awal pagi menjalankan rutinitas seperti biasa, ke kantor mencari sesuap nasi segengam berlian, he..he. Tapi hari ini aku khawatir tidak bisa melakukan aksi di jalanan bersaing dengan pengemis dipersimpangan jalan karena ada agenda kantor yang harus aku ikuti. Aku pasrah….. Pagi terlewatkan, siangpun tiba, setelah selesai menyelesaikan setting beberapa keperluan untuk agenda kantor waktu istirahat telah tiba, aku teringat akan kawan-kawan di jalanan yang berpeluh, tanpa pikir panjang lansung saja tancap gas ke simpang 5 Banda Aceh.

Continue reading ‘Hari ke Dua di Jalanan’

Popularity: 5%

Kami Sedikit, Tapi Kami Peduli

Awal pagi di hari rabu 11 Feb 2009, Kami bergerak perlahan, menyiapkan kardus, menempel poster yang telah kami siapkan dimalam hari. Kami berpencar menuju sudut persimpangan jalan, sambil berdoa kami berharap uluran tangan dari para pengguna jalan. Demi nilai-nilai kemanusian mari kita jalankan misi ini……..

Ozank Menebar Senyum

Ozank memperlihat poster sambil menebar senyum

Continue reading ‘Kami Sedikit, Tapi Kami Peduli’

Popularity: 13%

Resep Makan Ala Teh Botol Sosro

Pulang rapat persiapan aksi kemanusian penggalangan dana untuk pengungsi suku Rohingya, lansung kekantor buat lanjutin kerjaan yang ditinggalkan dibantu sama Fauzan menyiapkan iklan pemilu damai 2009. Jam 10 malam balek dari kantor perut masih terasa kenyang, mau mapir ke warung nasi malas, mending pulang saja dan istirahat. Eh sampe kerumah, yang namanya blogger rasanya belum bisa tidur tanpa buka-buka blog.

Kerjaan yang rencananya mau dilanjutin dirumah gak jadi dikerjakan. Buka blog ini login dan nulis satu judul tentang pengungsi rohingya lalu buka acehblogger.org. Sambil blog walking yang teragregate di ABC teringat akan kampanye ABC tentang pengungsi rohingya. Aku teringat dengan postingan salah satu Blogger wanita yang juga teragregate di ABC tentang pengungsi rohingya. Lansung saja aku buka blognya dan login sebagi admin di acehblogger.org lalau tindakan copy paste segera bemain. Aku posting dan menulis satu judul lg di ABC, tak teras sudah jan 12 malam, perut terasa lapar tak tetahankan, tanpa pikir panjang lansung saja ambil motor yang masih duduk manis didepan rumah, tancap gas ke mie Lala yang ada di jalan Syiah Kuala Lamdingin. Sesanpai disana aku pesan 1 Mie dan teh hangat lalu menuju meja. Aku perhatikan mejanya ada beberapa tulisan, dari pada bengong aku coba baca, eh ternyata ohternyata sungguh menarik alas tulisaya. Berikut ini beberapa tulisan yang sempat di tulis memalu fasilta notepad di handphone.

Continue reading ‘Resep Makan Ala Teh Botol Sosro’

Popularity: 9%

Kita Tau, Tapi Diam…

Ya…… kita semua tahu bahwa sebuah penderitaan yang dirasakan oleh kaum tertindas, kaum teranianya, kaum tak bernegara.., mereka terusir dari negara mereka dari tanah kelahiranya. Hak-hak beragama secara bebas, hak politik, bahkan hak untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik juga dirampas oleh kekuasan negara, sungguh sebuah negara yang dipimpin oleh orang-orang tak berprikemanusian.

Mereka meninggalkan negeri sendiri tempat dilahirkan, tanah dimana meraka dibesarkan hanya demi kehidupan yang jauh dari penindasan yang tak tertahankan. Mereka mengarungi samudra yang tak berbatas dengan perahu saadanya, memasuki negara orang lain tanpa ijin, meraka ditangkap dengan tuduhan pendatang illegal, mereka ditempatkan disebuah pulau terpencil, disiksa, dipekerjakan tanpa upah bahkan tanpa diberikan makan yang cukup. Lalu mereka kembali dibuang kelaut dengan perahu kecil yang dipenuhi oleh ratusan manusia, tanpa mesin, tanpa bekal makanan yang cukup.

Continue reading ‘Kita Tau, Tapi Diam…’

Popularity: 5%

Sekilas Tentang Pulo Aceh

Polo Aceh merupakan sebuah kecamatan dibawah administrasi Aceh Besar yang terdiri dari dua pulo besar, Polu Breuh dan Pulo Nasi dan menaungi 3 kemukiman yaitu Pulo Breuh Utara dengan 4 desa yaitu Rinon, Alue Raya, Meulingge dan Lapeng, Pulo Breuh Selatan 8 desa yaitu Ulee Paya, Gugop, Seurapong, Blang Situngkoh, Paloh, Lampuyang, Lhok dan Teunom, sedangkan Kemukiman Pulo Nasi terdiri 5 desa yaitu Lam Teng, Pasi janeng, Rabo, Alue Ruyung dan Deudap koordinat berada pada 5.42.00″N dan 95.6.0″E.

Perjalan menuju Pulo Breuh bisa dicapai dengan menumpangi boat yang berlayar dari Lampulo Banda Aceh berkisar pada jam 1.30 – 2.30 dan dari Pulo Aceh menuju Lampulo Banda Aceh akan berangkat pada jam 7.00 – 8.00 (waktunya berangkat adalah kisaran, tidak pasti karena ditentukan oleh faktor jumlah penumpang dan barang). Pelayaran dilakukan 6 hari seminggu, khusus hari jumat boat tidak berlayar karena ada suatu aturan dalam hukum adat laot (laut) Aceh yang melarang  setiap boat untuk berlayar pada hari jumat sampai dengan selesai shalat jumat dilaksanakan. Pelayaran dilayanai oleh 3 boat, tapi hanya ada 1 boat setiap hari yang berlayar, para pemilik boat membuat suatu kesepakan yaitu melakukan jatah berlayar 2 hari setiap 1 boat kerena faktor jumlah penumpang, aturan ini berlaku saat saya melakukan perjalanan ke Pulo Aceh pada awal Februari 2009 dan sampai kapan berakhir, hanya tuhan yang tahu.

Untuk perjalanan ke Pulo Nasi sekarang sudah dilayari oleh Ferry KMP Simeuleu, tapi saya belum tahu pasti jadwal pelayarannya. setahu saya pada hari sabtu pagi ada satu pelayaran.

Continue reading ‘Sekilas Tentang Pulo Aceh’

Popularity: 6%

On the way to Pulo Aceh

Jam 14.00 WND boat yang aku tumpangi menghidupkan mesin pertanda akan segera berangkat menuju Pulo Aceh-Aceh Besar. Memang benar apa adanya sesaat setelah mesin dihidupkan awak boat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing yaitu menarik tali temali yang masih terlilit dibadan boat dan dermaga kayu yang sederhana. Tak sampai 10 menit boatpun perlahan mulai bergerak ditandai dengan suara gemuruh air dari baling-baling boat tepat berada dibawah tempat duduk aku.

Continue reading ‘On the way to Pulo Aceh’

Popularity: 5%

Palestina VS Myanmar (Rohingya)

Sebuah dilema dimasyarakat Aceh saat ini, mengumpulkan bantuan untuk Gaza/Palestina begitu gencar dilakukan oleh ormas Islam dan lembaga-lembaga kemahasiswaan di jalan-jalan di seantaro Aceh. Hal ini tentunya tidak ada salahnya, dan merupakan hal yang sangat wajar dilakukan, tapi kebanyakan para aktifis yang mengumpulkan dana tersebut saya melihatnya mereka melakukanya ada udang dibalik batu bukan semata kerena dorongan nilai-nilai kemanusian. 

Serambi Indonesia sebuah koran lokal saban hari menerbitkan berita tentang penyerahan bantuan untuk Palestina dari berbagai organisasi. Saya melihat ada pemutar balikan fakta disini yang dilakukan oleh organisasi yang mengumpulkan dana dari masyarakat melalui kotak amal yang tersebar disetiap persimpangan didalam kota. Saya melihat organisasi yang meyerahkan bantuanya ke harian Serambi Indonesia dengan harapan publikasi tentunya selalu mengatasnamakan bantuanya dari organisai tersebut, padahal seharunya hal itu tidak dilakukan, selayaknya dana yang terkumpul dari masyarakat pada saat diserahkan kemanapun harus membawa nama masyarakat, bukan malah membawa nama organisasi masing-masing. Permasalahan diatas sebenara nya bukan hal yang ingin saya ceritakan disini kawan…
Pengungsi suku Ruhingya Myanmar (photo Detik.com)

Pengungsi suku Rohingya yang terdampar di Sabang 7 Januari 2009 (photo : detik.com)

Masih ingat dengan kasus terdamparnya 190 manusia perahu asal suku Rohingya di Sabang pada 7 Januari lalu? Itu sudah hampir sebulan lalu kawan, mungkin sudah kawan lupakan, karena tidak penting. Tapi ada yang terbaru lagi kawan, saat tulisan ini ditulis baru saja terjadi yaitu 198 manusia perahu dari suku muslim Rohingya kembali ditemukan oleh nelayan Idi Aceh Timur (baca ini). Menurut info dari kawan-kawan wartawan kelompok ini sama dengan kelompok yang ditemukan di Sabang pada 7 Januari lalu, secara kebetulan mereka beda perahu. 

Continue reading ‘Palestina VS Myanmar (Rohingya)’

Popularity: 8%

Cerita suka-suka

Kawan… minggu ini benar-benar menjadi menyebalkan sekali, walau tetap harus dijalani ya inilah hidup, ada senang ada susah itulah hidup. Disini kawan, aku cuma mau nulis tapi tak tau aku harus menulis apa. Menyebalkan..ya memang sangat menyebalkan.  Dimulai dengan senin yang selalu saja sibuk dengan rutinitas pekerjaan, permasalahan-permasalahan klasik selalu saja ada, mulai dari koneksi internet yang lelet, print server ngadat, habis tinta… dan lain-lainlah. huh……..

Perjuangan minggu ini memang tak lama cuma 3 hari saja, karena kamis aku akan mengambil cuti selama 2 hari, dan berencana liburan ke tempat kawan di sebuah pulo di ujung sumatra atau tepatnya pulo Aceh, oh…. hari….hari yang menyenangkan akan tiba. Aku membayangkan tidur dipinggir pantai ditemani oleh deburan suara ombak, sungguh indah kawan. Aku bermimpi betemu bidadari yang turun dari langait, berjalan berdua dipantai yang indah tanpa ada yang menggangu termasuk WH. ha…ha, itu sih mimpi.

Yah…. aku masih harus kerja di hari rabu sebelum liburan di hari kamis, segala sesuatu telah mulai aku persiapkan, mulai dari membawa baju-baju kotor ke tukang cuci, menyiapkan GPS, camera buat adventure tripnya sampai mencuci tenda yang akan aku bawa. Tak lupa juga aku mecari peta pulo Aceh di internet tap i sayang belum aku jumpai sampai saat ini, demi mencari peta Pulo Aceh aku rela membongkar hardisk laptop yang telah rusak, demi sebuah peta. Tapi kawan keberuntungan belum berpihak ternyata, laptop yang rencana mau diambil hardisk nya ternyata tak bisa aku buka gara-gara perkara kecil saja, yah… aku gak punya obek nya. ha…ha

Continue reading ‘Cerita suka-suka’

Popularity: 3%