Meugang dalam tradisi masyarakat Aceh adalah meyembelih beratus bahkan ribuan ribu ekor lembu, kambing atau karbau bahkan ayam dan bebek dikorbankan. Tradisi turun temurun ini dilaksanakan 3 kali setahun pada awal Ramadhan, Indul Fitri dan Idul Adha. Tradisi ini dilakukan satu hari menjelang hari menyambut Ramdhan dan perayaan Idul Fitri serta Idul Adha.
Ada anggapan menarik dalam tradisi ini dimana apabila seorang manantu tidak membawa pulang daging meugang kerumah mertua maka menantu tersebut dianggap lemah dan sang pemuda malang tersebut akan merasa sangat malu. Namun hal ini hanya berlaku apabila sang menantu masih menetap di rumah mertua, akan lain halnya apabila sudah memiliki rumah sendiri, membawa pulang daging meugang bukanlah suatu kewajiban yang akan memalukan bila tidak dilaksanakan. Baca selengkapnya ‘Meugang, Suatu Tradisi Masyarakat Aceh’
Ketika lebaran tiba baik itu Idul Fitri maupun Idul Adha suara tup tup tup tup sering terdengar dirumah panggung yang beratap rumbia yang konon katanya memiliki teknologi tersendiri pada desain atapanya. Dentuman tup tup tup bukanlah suara salak senjata, tapi suara dari lesung bertubrukan dengan alu yang diayunkan oleh sekolompok wanita. Alat penumpuk tersebut dalam masyarakat Aceh dekenal dengan “jeungki”.
Era keperkasaan jeungki kini tergusur oleh kecanggihan teknologi mesin, suara alunan jeungki yang beraturan itu kini sudah jarang terdengar seiring waktu diguras modernisasi. Alat tumbuk tradisional itu terbuat dari kayu pilihan yang kuat, dan batu yang dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti mangkuk. Teknologi era penjajahan ini tidak menggunan energi fosil sehingga ramah lingkungan dan membuat penggunanya sehat. Baca selengkapnya ‘Jeungki Bagian Budaya Yang Tersingkirkan’
Tengku Adli Abdullah memperlihatkan sertifikat/surat wakaf Rumoh Aceh (Baitul Ashy) dari pemerintah Arab Saudi
Artikel ini bisa dikatakan sebuah pelampiasan atas pencarian yang begitu lama terhadap makna bait lirik lagu Rafli dengan judul Sukee 300, petualangan pencarian makna tersebut sudah sangat lama saya lakukan walau tidak terfokus, namun bila ada orang yang saya anggap tepat maka selalu saya pertanyakan makna dari bait lirik lagu tersebut. Banyak orang yang saya tanyakan mulai dari teman-teman sampai orang yang tidak dikenal namun memiliki kesempatan untuk bertanya tidak saya sia-siakan, namun belum menumukan jawaban yang bisa saya terima.
Petualangan tersebut diakhiri dengan menemukan sebuah jawaban yang masuk akal (menurut pandangan saya) dari pakarnya Tengku Adli Abdullah. Kunjungan singkat ke kediaman Adli Abdullah didasari atas keinginan teman-teman Aceh Blogger yang menjadi pengelola website ensiklopedia daring Acehpedia.org untuk menggali lebih jauh sejarah Aceh dari pakarnya. Ide awal sebelum berjumpa hanya ingin mengetahui lebih jauh tentang hukom adat laoet yang berlaku dalam masyarakat Aceh yang kebetulan Adli Abdulla adalah panglima laot Aceh. Perbincangan tentang hukom adat laot hanya sempat dipertanyakan namun Adli menjawab itu hanya hal kecil, kita bicarakan masalah sejarah Aceh saja. Baca selengkapnya ‘Sukee’
Lagu Aceh yang sedikit nyentrik ini menceritkan sebuah rumah tangga yang sedang mengalami masalah, menarik dicermati dimana suami-istri saling hujat layaknya orang berpantun saling menyerang lawan dengan kelemahan-kelemahanya. Berikut ini lirik lagu tersebut hasil mendengarkan lagu tersebut berulang-ulang sambil mencatatnya dan video dari youtube. Semoga postingan ini bisa menghibur anda. :p
Literacy is a bridge from misery to hope. It is a tool for daily life in modern society. It is a bulwark against poverty, and a building block of development, an essential complement to investments in roads, dams, clinics and factories. Literacy is a platform for democratization, and a vehicle for the promotion of cultural and national identity. Especially for girls and women, it is an agent of family health and nutrition. For everyone, everywhere, literacy is, along with education in general, a basic human right.... Literacy is, finally, the road to human progress and the means through which every man, woman and child can realize his or her full potential. Kofi Annan