Lembaga Adat Dalam Masyarakat Aceh

Lembaga Adat Dalam Masyarkat Aceh
Issu masyarakat adat menjadi populer secara internasional berawal dari gerakan protes masyarakat asli (native peoples) di Amerika Utara, yang meminta keadilan pembangunan akibat kehadiran sejumlah perusahaan transnasional di bidang pertambangan yang beroperasi di wilayah mereka. Gerakan protes tersebut mendapat respon positif dari Organisasi Buruh Internasional (International  Labour Organitation) pada tahun 1950-an dalam upaya melindungi tenaga kerja. Melalui lembaga ini (ILO), istilah masyarakat adat dipopulerkan dengan sebutan indigenous peoples sebagai issu global di lembaga-lembaga PBB. Pada tahun 1989, ILO memperbaharui Konvesi tentang Perlindungan dan Integrasi Penduduk Asli dan Masyarakat Suku tersebut menjadi Konvensi Nomor 169.  Sekarang, istilah indigenous people semakin resmi penggunaannya dengan lahirnya Deklarasi PBB tentang Hak-hak Masyarakat Adat  (United Nation Declaration on the Rights of Indigenous People) pada tahun 2007.
Di Indonesia, istilah indigenous peoples diterjemahkan dengan “masyarakat adat”, yang pada tahun 1993, disepakati sebagai suatu istilah pengganti sebutan yang beragam.  Selanjutnya, sebagaimana ditetapkan dalam Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) pertama  yang diselenggarakan pada bulan Maret 1999, disepakati bahwa masyarakat adat adalah kelompok masyarakat yang memiliki asal usul leluhur (secara turun temurun) di wilayah geografis tertentu, serta memiliki sistem nilai, ideology, ekonomi, politik, budaya, sosial dan wilayah sendiri.
Dalam Pasal 2 UUPA ditegaskan bahwa Daerah Aceh dibagi atas kabupaten/kota. Kabupaten/kota dibagi atas kecamatan. Kecamatan dibagi atas mukim. Dan, mukim dibagi atas kelurahan dan gampong. Pasal ini menegaskan diakuinya lagi eksistensi mukim sebagai daerah teritori. Selanjutnya, di dalam Pasal 98 UUPA ditegaskan lagi pengakuan terhadap lembag-lembaga adat Aceh, yaitu : Majelis Adat Aceh, Imeum Mukim, Imeum Chik, Keuchik, Tuha Peut, Tuha Lapan, Imeum Meunasah, Kejruen Blang, Panglima Laot, Pawang Glee, Peutua Seunebok, Haria Peukan, dan Syahbanda.
Semua lembaga adat yang disebutkan dalam Pasal 98 UUPA di atas, kecuali Majelis Adat Aceh (MAA), menurut sejarahnya pada masa lalu berada di bawah koordinasi imeum mukim sebagai kepala pemerintahan mukim. Kini, dalam UUPA dinyatakan bahwa lembaga-lembaga adat tersebut berfungsi dan berperan sebagai wahana partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan Pemerintahan Aceh dan pemerintahan kabupaten/kota di bidang keamanan, ketentraman, kerukunan, dan ketertiban masyarakat serta untuk penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan secara adat.
Masing-masing lembaga adat tersebut menyelenggarakan tugas dan fungsinya sebagai berikut :
1) Imeum Mukim bertindak sebagai  Kepala Pemerintahan Mukim, yang membawahi federasi dari beberapa gampong.
2) Imeum Mesjid atau Imeum Chik adalah figur yang mengepalai urusan syariat dan peribadatan pada tingkat wilayah mukim.
3) Tuha Lapan adalah figur yang terdiri dari tokoh-tokoh warga mukim anggota musyawarah mukim, yang bertugas dan berfungsi memberikan nasehat, saran, pertimbangan, atau pendapat kepada Imeum Mukim dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan mukim. Disebutkan angka lapan, maksudnya sebagai representasi delapan arah mata angin dari suatu daerah yang lebih luas dari gampong.
4) Keuchik (Kepala Desa) adalah  ketua gampong (desa), yang memimpin dan mengetuai segala urusan tata kelola pemerintahan gampong. Ia dipilih secara demokratis menurut vesri masyarakat gampong.
5) Imeum Meunasah/ Teungku Gampong adalah pemimpin dan pembina bidang agama (Islam), yang sekaligus bertindak selaku pemimpin upacara keagamaan di gampong. Ia juga berperan memberikan pertimbangan dan penerapan hukum syariat di gampong.
6) Tuha Peut Gampong adalah  para ureung tuha anggota musyawarah gampong yang  bertugas dan berfungsi memberikan nasehat, saran, pertimbangan, atau pendapat kepada Keuchik dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan gampong. Angka peut (empat) ini pada mulanya merujuk sebagai representasi teritoti dari empat arah mata angin dalam gampong. Namun kemudian, sebutan peut ini tidak hanya ditujukan sebagai perwakilan teritori, melainkan juga representasi personal dalam lembaga tuha peut, yaitu ; tuha, tuho , teupeu, dan teupat.
7) Keujrun Blang adalah ketua adat dalam urusan pengaturan  irigasi, pengairan untuk persawahan, menentukan mulainya musim tanam, membina para petani, dan menyelesaikan sengketa persawahan.
8) Panglima Laot adalah ketua adat yang memimpin urusan bidang penangkapan ikan di laut, membina para nelayan, dan menyelesaikan sengketa laot.
9) Peutua Seuneubok adalah ketua adat yang mengatur tentang pembukaan hutan / perladangan/ perkebunan pada wilayah gunung/ lembah-lembah, dan menyelesaikan sengketa perebutan lahan.
10) Panglima Uteun/Kejruen Glee adalah ketua adat yang memimpin urusan pengelolaan hutan adat, baik kayu maupun non kayu (madu, getah rambung, sarang burung, rotan, damar, dll), meurusa, memungut wasee glee, memberi nasehat/petunjuk pengelolaan hutan, dan menyelesaikan perselisihan dalam pelanggaran hukum adat glee.
11) Syahbandar adalah pejabat adat yang mengatur urusan kepelabuhanan, tambatan kapal/ perahu, lalu lintas angkutan laut, sungai dan danau.
12) Haria Peukan adalah pejabat adat yang mengatur ketertiban, kebersihan pasar dan pengutip retribusi.
Dari semua lembaga adat di atas, kejruen blang, panglima laot, pawang glee, peutua seuneubok, haria peukan, dan syahbanda, dulunya merupakan lembaga-lembaga adat sebagai institusi teknis di bawah koordinasi imeum mukim yang memiliki peran, fungsi dan kewenangan untuk mengatur, mengawasi, dan  mengelola sumber daya alam sebagai hak ulayat mukim.
Keberadaan lembaga-lembaga adat tersebut di suatu mukim tergantung pada letak geografi mukim bersangkutan. Sehingga, bisa jadi, pada suatu mukim ada lembaga adat yang tidak ada pada mukim lainnya. Misalnya, lembaga adat laoet hanya ada pada mukim yang wilayahnya di pesisir laut. Begitu pula lembaga adat hutan hanya ada pada mukim yang memiliki wilayah hutan. Namun ada pula mukim yang memiliki lembaga adat hutan dan juga lembaga adat laut, jika di kemukiman tersebut terdapat wilayah laut dan gunung.
Dengan mencermati pada deskripsi diatas, dalam konteks hari ini dapat dinyatakan bahwa lembaga adat Haria Peukan saat ini merupakan salah satu lembaga adat yang telah mendapat pengakuan kembali dalam tataran juridis formal. Bahkan pengakuan tersebut menjadi semakin kuat dengan disebutkannya di dalam Undang-Undang tentang Pemerintahan Aceh.

AcehIssu masyarakat adat menjadi populer secara internasional berawal dari gerakan protes masyarakat asli (native peoples) di Amerika Utara, yang meminta keadilan pembangunan akibat kehadiran sejumlah perusahaan transnasional di bidang pertambangan yang beroperasi di wilayah mereka.

Gerakan protes tersebut mendapat respon positif dari Organisasi Buruh Internasional (International  Labour Organitation) pada tahun 1950-an dalam upaya melindungi tenaga kerja. Melalui lembaga ini (ILO), istilah masyarakat adat dipopulerkan dengan sebutan indigenous peoples sebagai issu global di lembaga-lembaga PBB.

Pada tahun 1989, ILO memperbaharui Konvesi tentang Perlindungan dan Integrasi Penduduk Asli dan Masyarakat Suku tersebut menjadi Konvensi Nomor 169.  Sekarang, istilah indigenous people semakin resmi penggunaannya dengan lahirnya Deklarasi PBB tentang Hak-hak Masyarakat Adat  (United Nation Declaration on the Rights of Indigenous People) pada tahun 2007.

Di Indonesia, istilah indigenous peoples diterjemahkan dengan “masyarakat adat”, yang pada tahun 1993, disepakati sebagai suatu istilah pengganti sebutan yang beragam.  Selanjutnya, sebagaimana ditetapkan dalam Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) pertama  yang diselenggarakan pada bulan Maret 1999, disepakati bahwa masyarakat adat adalah kelompok masyarakat yang memiliki asal usul leluhur (secara turun temurun) di wilayah geografis tertentu, serta memiliki sistem nilai, ideology, ekonomi, politik, budaya, sosial dan wilayah sendiri.

Di Aceh sebagai mana tertuang dalam Pasal 2 UUPA ditegaskan bahwa Daerah Aceh dibagi atas kabupaten/kota. Kabupaten/kota dibagi atas kecamatan. Kecamatan dibagi atas mukim. Dan, mukim dibagi atas kelurahan dan gampong. Pasal ini menegaskan diakuinya lagi eksistensi mukim sebagai daerah teritori.

Selanjutnya, di dalam Pasal 98 UUPA ditegaskan lagi pengakuan terhadap lembag-lembaga adat Aceh, yaitu : Majelis Adat Aceh, Imeum Mukim, Imeum Chik, Keuchik, Tuha Peut, Tuha Lapan, Imeum Meunasah, Kejruen Blang, Panglima Laot, Pawang Glee, Peutua Seunebok, Haria Peukan, dan Syahbanda.
Baca selengkapnya ‘Lembaga Adat Dalam Masyarakat Aceh’

Popularity: 1%

Google Translate Semakin Canggih

gsSemalam baca-baca blog dalam bahasa Inggris dengan kata-kata banyak tak aku pahami, seperti biasa google menajdi sahabat terbaik di dunia maya saat ini dengan beragam layanannya. Sekian lama sudah menggunakan layanan terjemahan gratis dari si mbah dengan beberapa kali modifikasi, namun kali ini terlihat perubahan sangat signifikan.

Penggunaan java sangat kentara terasa saat text dimasukkan ditext box. Google secara otomatis tanpa perlu menekan tombol terjemah langsung menerjemahkan untuk kita, hal ini tentunya sangat menghemat waktu. Pemberian contoh penggunaan kalimat juga sangat membantu bagi yang bahasa inggrisnya pas-pasan seperti saya ini. Disamping isi kamusnya juga semakin kaya.

Kalau berbicara masalah grammar (tata bahasa) ini yang saya tak pahami, mungkin perlu ahli linguistic yang menilainya karena saya tidak memiliki kapasitasnya. Tata bahasa memang sangat penting namun bagi penggunaan sehari-hari untuk sekedar memahami sebuah artikel dari bahasa Inggris, Google translate menajdi pilihat yang tepat.
Baca selengkapnya ‘Google Translate Semakin Canggih’

Popularity: 1%

Jak U Blang Pidie

IMG_2930Melanjutkan cerita pada tulisan sebelumnya akan saya mulai dengan perjalanan dari Geumpang ke Blang Pidie, Aceh Barat Daya. Setelah aksi narsisme dengan dengan penjual pisang goreng, perjalanan dilanjutkan kembali. Rute Geumpang – Meulaboh ternyata jalanannya lebih extrim lagi. Jalan yang sempit tanpa pembatas yang dihimpit perbukitan dan jurang membuat hati was-was dan terasa sangat lama sampainya. Hal ini diperparah lagi dengan hujan dan kabut tebal yang hanya bisa di tembus mata telanjang dengan jarak 10 meter.

Dengan kecepatan lambat tapi pasti kami habiskan senja dijalanan sebelum mengisi bensin di kecamatan Johan Pahlawan Aceh Barat. Setelah isi bensin kami coba menghubungi blogger Meulaboh, Citra Rahman untuk menanyakan rekomndasi tempat makan malam. Setelah berbicara panjang lebar Citra menawarkan ayam penyek sebagai menu makan malam. Dalam hati saya menggurutu “ngapain jauh-jauh ke Meulaboh kalau hanya makan ayam penyek, di Banda Aceh juga ada”, saya menanyakan apakah tidak ada makanan special di Meulaboh? Namun karena malan, untuk mencari makanan special tentunya susah. ya… maklumlah.


Baca selengkapnya ‘Jak U Blang Pidie’

Popularity: 1%

Tangse dan Geumpang yang Indah

Rimbunan hutan menemani hampir sepanjang perjalanan ditambah hujan deras dan jalan yang sempit plus dihimpit oleh bukit rawan longsor dan jurang yang terjal  membuat hati sedikit gundah diperjalanan.  Namun semua ini dipatahkan oleh semangat yang kuat untuk saling berbagi, melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada teman-teman lain. Perjalanan ini dilakukan dalam rangka pelatihan menulis, blogging dan perkenalan situs acehpedia.org di Kabupten Aceh Barat Daya.
Berangkat dari Banda Aceh jam ± 11.00  pada hari Juma’t, singgah di Sare untuk shalat Zuhur dan makan siang dilanjutkan menuju Beureunun. Sesampai di Sigli menyempatkan diri untuk beli Ranub Mameh (sirih manis) kesukaan Adikcilak. Tak lama disana langsung tanjap gas karena Tengku Muda sudah menunggu lama di Lamloe dengan salah satu blogger wilayah Tangse, Pak Syukri.
Namun perjalanan ini terpaksa dihentikan sebentar di Beureuenun untuk membeli keperluan perbaikan kecil kendaraan, Tanpa berlama-lama perjalanan dilanjutkan menuju Lamloe untuk menjemput Tengku Muda dan memperbaiki kaca spion yang rusak. Mobil yang dirental ternyata tidak sesuai harapan, kaca spion rusak, AC tidak berjalan dan yang paling parah tidak ada radionya. Sungguk menyiksa melakukan perjalanan jauh tanpa ditemani musik. Oh donya…..
Selesai perbaiki kaca spion dan diskusi sedikit dengam Pak Syukri, tancap gas menuju kota selanjutnya. Hamparan sawah sepanjang perjalan dari Lamlo-Keumala-Tangse membuat saya tercengang. Belum pernah saya lihat hamparan sawah yang beitu luas dikiri-kanan jalan sebelumnya, sungguh pemandangan yang luar biasa bagi saya.
Sesampai di Tangse kami sempat berhenti sebentar untuk mengambil foto dengan latar hamparan sawah yang luas dan perbukitan mehimpitnya, awan biru dan sungai menambah keindahan Tangse dilihat dari atas bukit. Kami sempat berandai-anda untuk mendirikan villa disana apabila bisnis kami berjalan lancar. Ada juga kelakar dari teman-teman yang ditujukan kepada saya untuk mencari calon pedamping hidup dari Tangse, untuk hal ini memang dari jauh-jauh hari sudah dipikirkan, ada rekomendasi? hahaha.
20 Menit lebih sudah berjalan namun masih saja ingin berlama-lama, tapi waktu yang mepet terpaksa kami tinggal pemandangan yang baitu indah menuju kota selanjutnya Geumpang. Namun dasar menusia yang tidak bisa melihat hal-hal baru, ditengah perjalanan kami kembali berhenti untuk sekedar mencoba jembatan tali. Jembatan tali terletak antara 2 pinngir sungai yang digunakan penduduk setempat untuk menyebrang.
Kami mencoba menaikinya sambil foto-foto. Dasar kawan-kawan usil, selagi saya naik mereka mengayun-ayun dengan kencang membuat saya hampir manangis ketakutan, meraka tertawa lepas senang melihat penderitaan saya. Setelah puas menaiki jembatan tali, perjalananpun dilanjutkan. Geumpang menajadi termapt singgah berikutnya untuk shalat Ashar.
Setelah selesai shalat kami mencari makanan ringan untuk membunuh suntuk dan rasa pahit dimulut. Pas dipen mesjid ada gadis  yang menjual pisang goreng, tanpa buang-buang waktu kami mulai melahap pisang goreng ditengah-tengah hutan dengan cuaca hujab rintik-rintik, sungguh enak.  Perjalanan masih panjang, tunggu kelanjutan artkel ini.
Ranuh Mameh Sigli

Ranuh Mameh Sigli

Rimbunan hutan menemani hampir sepanjang perjalanan ditambah hujan deras dan jalan yang sempit plus dihimpit oleh bukit rawan longsor dan jurang yang terjal  membuat hati sedikit gundah diperjalanan.  Namun semua ini dipatahkan oleh semangat yang kuat untuk saling berbagi, melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada teman-teman lain. Perjalanan ini dilakukan dalam rangka pelatihan menulis, blogging dan perkenalan situs acehpedia.org di Kabupten Aceh Barat Daya.

Berangkat dari Banda Aceh jam ± 11.00  pada hari Juma’t, singgah di Sare untuk shalat Zuhur dan makan siang dilanjutkan menuju Beureunun. Sesampai di Sigli menyempatkan diri untuk beli Ranub Mameh (sirih manis) kesukaan Adikcilak. Tak lama disana langsung tanjap gas karena Tengku Muda sudah menunggu lama di Lamloe dengan salah satu blogger wilayah Tangse, Pak Syukri.

Namun perjalanan ini terpaksa dihentikan sebentar di Beureuenun untuk membeli keperluan perbaikan kecil kendaraan, Tanpa berlama-lama perjalanan dilanjutkan menuju Lamloe untuk menjemput Tengku Muda dan memperbaiki kaca spion yang rusak. Mobil yang dirental ternyata tidak sesuai harapan, kaca spion rusak, AC tidak berjalan dan yang paling parah tidak ada radionya. Sungguk menyiksa melakukan perjalanan jauh tanpa ditemani musik. Oh donya…..
Baca selengkapnya ‘Tangse dan Geumpang yang Indah’

Popularity: 7%

Husnul Terbaring di Ruang Isolasi

Husnul Zafirah terbaring lemas di ruang isolasi RSUZA Banda Aceh

Husnul Zafirah terbaring lemas di ruang isolasi RSUZA Banda Aceh

Tangan kecil itu tak henti-hentinya menggaruk kepalanya yang luka. Darah bercampur nanah keluar tanpa henti. Malah, beberapa belatung kecil seukuran ujung korek api ikut keluar dari tempurung kepala dan telinga gadis kecil yang malang itu.

Husnul Zafirah, bocah warga Gampong Bangkeh, Kecamatan Geumpang, Pidie, sejak sepekan terakhir menderita penyakit aneh. Berawal dari demam yang sangat tinggi kemudian muncul benjolan-benjolan hitam disekujur tubuhnya yang mengeluarkan darah dan nanah jika digaruk.

Jarang sekali putri ke empat Nurlela ini suhu badannya panas. Kalau pun demam, seperti setahun yang lalu, Husnul masih mampu ke sekolah

“Sekarang demamnya tinggi sekali dan tumbuh benjolan hitam,” ungkap wanita yang harus menjadi penopang hidup keluarganya sejak sang suami hilang pada masa konflik delapan tahun silam. Melihat kondisi buah hatinya yang semakin kritis, sang bunda, Nurlela, langsung membawanya ke Puskesmas Geumpang. “Sehari Husnul dirawat disana, setelah itu dirujuk ke Rumah Sakit Sigli,” ungkapnya. Berbekal kartu Askeskin, wanita itu langsung membawa anaknya ke RSU Sigli pada Selasa (20/10).
Baca selengkapnya ‘Husnul Terbaring di Ruang Isolasi’

Popularity: 9%

SMS Donasi Untuk Korban Gempa Sumatra

gempa_padang

Sumber foto: antarajatim.com

Musibah demi musibah tak henti-hantinya menimpa tanah air ini, Mulai dari Aceh pada 2004 silam sampai yang terakhir Sumatra Barat dan sekitarnya dilanda gempa. Gempa Sumatra yang merenggut 1000 jiwa lebih menurut Badan Perisikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau dalam bahasa inggris United Nations (UN) ini telah menarik solidaritas dari berbagai kelompok.

Blogger sebagai suatu kelompok dalam dunia maya namun juga aktif didunia nyata tak akan tinggal diam dalam menyikapi musibah ini. Persimpangan jalanpun sekarang sudah banyak dipenuhi oleh kelompok-kelompok yang mencari bantuan untuk membantu sudaranya di Padang dan sekitarnya.

Sebagi bentuk solidaritas Kamonitas Aceh Blogger melihat ada peluang lain yang bisa dimanfaatkan dengan cara muda untuk membantu korban gempa Sumatra. Telkomsel sebagai salah satu provider selular terbesar ditanah air tergarak hatinya untuk membantu dengan cara mereka sendiri. Donasi SMS yang dilakukan Telkomsel masih belum banyak orang tahu (mungkin) terutama tentang tata caranya. Oleh karena itu celah ini bisa dimanfaatkan oleh blogger untuk mengkampanyekanya dengan cara menulis artikel dan juga menempatkan banner di blog masing-masing.
Baca selengkapnya ‘SMS Donasi Untuk Korban Gempa Sumatra’

Popularity: 15%

Wikipedia Bahsa Aceh Menuju 1000 Artikel

Wikipedia-logo-aceSemenjak disetujui pada 12 Agustus 2009 oleh Wikimedia foundation, wikipedia bahsa Acèh (bahasa Aceh) kini baru memiliki   227 artikel (per 3 september) itupun artikel-artikel sederhana atau yang lebih dikenal dikalangan wikipediawan dengan artikel rintisan. Wikipediawan merupakan sebutan untuk kontributor wikipedia yang telah sudi menulis dimedia wiki sebagai ensiklopedia bebas secara suka rela.

Wikipedia bahsa Aceh sendiri diajukan pada awal 2008 silam, dan tak berapa lama kemudian halaman wikipedia bahsa Aceh telah dibuat ditabung penetasan (incubator) dengan kode bahasa ace dengan merujuk kepada standard yang ditetapkan oleh International Standards Organization (ISO). Banyak pertanyaan yang dilemparkan oleh teman-teman mengenai standard kode ini. Satandard dari ISO untuk bahasa-bahasa didunia adalah  ISO-639.

Saat ini dengan 227 artikel wikipedia bahsa Aceh termasuk kedalam kelompok wikipedia dengan 100 artikel lebih, hal ini sungguh naif bila dibandingkan dengan jumlah penutur bahsa Aceh mencapai 3 juta orang lebih dan yang menguasi teknologi internet mencapai 8% diantaranya. Untuk itu kami mengajak kawan-kawan semua untuk ikut berkontribusi dalam menambah jumlah artikel.


Baca selengkapnya ‘Wikipedia Bahsa Aceh Menuju 1000 Artikel’

Popularity: 17%

Telkomsel Flash, Menyebalkan

Gambar diambil dari: corpcommtelkomseljatim.wordpress.com

Gambar diambil dari: corpcommtelkomseljatim.wordpress.com

Tadi sore main-main ke detikinet.com, di sana ada berita bahwa Telkomsel memotong jatah quota client tanpa pemberitahuan. Bagi pengguna paket basic sepertiku, Telkomsel memotong dari jatah 2 GB per bulan menjadi hanya 500 MB. Sungguh kurang ajar !!!

Mereka melakukan justifikasi bahwa 60% total pengguna Telkomsel Flash Unlimited cuma menggunakan tak lebih dari 500 MB per bulannya. So, mereka menafikan 40% yang lainnya?

Paketnya tetap unlimited, cuma setelah habis jatah 500 MB itu maka kecepatan koneksi akan segera dihancurkan menjadi hanya 64 kbps, yang berarti jika Anda mendownload maka cepatan download hanya sekitar maksimal 8 KB/s. Sungguh tidak berprikemanusiaan.

Untuk yang tetap ingin menikmati kecepatan tinggi, Telkomsel menawarkan paket 300 MB dengan merogoh kocek Rp 100.000,- Sebuah trik jitu untuk mengambil untung dari ketidaktahuan masyarakat mengenai hak mereka.

Aneh memang, setelah berhasil merajai dunia komunikasi Indonesia dan menjadi raja seluler, bukannya memberi keringangan dan kemakmuran bagi konsumen, malah Telkomsel dengan seenaknya menyunat jatah quota bandwith user. Padahal user telah melakukan kontrak hitam-di atas putih dengan asumsi bahwa Telkomsel beritikad baik dengan isi kontraknya serta dengan yang diiklankannya.


Baca selengkapnya ‘Telkomsel Flash, Menyebalkan’

Popularity: 23%

Lingkungan Aceh Antara Asa dan Harapan

BERBICARA masalah lingkungan tentunya tidak lepas dari Sumber Daya Alam (SDA), sebagai salah satu IMG_6698contohnya yang secara langsung berhubungan erat dengan perkembangan dan pertumbuhan daerah terhadap infrastruktur dalam mendukung pembangunan daerah.

Kali ini, tim ekspedisi ABC Regional I Banda Aceh dan Aceh Besar (Tim X-ABC I) melakukan penjelajahan dengan tema lingkungan yang bertujuan untuk mencari tahu sejauh mana pengrekrutan SDA yang dijadikan aset dalam pembangunan serta mencari tempat-tempat wisata yang masih terpelihara dan jauh dari pandangan publik.

Ekspedisi yang berlangsung pada hari minggu (2/8) memang sedikit beda seperti apa yang telah dilakukan oleh tim X-ABC III Bireuen bulan Juli 2009 yang lalu, kali ini tim X-ABC I bergerak tanpa dibantu oleh guide (pemandu), berhubungan para tim yang ikut serta sudah mengetahui beberapa titik poin yang akan dikunjungi untuk melihat secara langsung dari apa yang terjadi di lapangan.


Baca selengkapnya ‘Lingkungan Aceh Antara Asa dan Harapan’

Popularity: 26%

Catatan Dari Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 5

Wagub sekaligus ketua panitia PKA 5

Wagub Aceh sekaligus ketua panitia PKA 5 bersalaman dengan Bupati Aceh Tengah pada malam penutupan PKA 5

Peukan Keubayaan Aceh (PKA) 5 yang merupakan hajatan budaya 4 tahunan di negeri yang menerapkan hukum  Syariah konon katanya menghabiskan dana miliaran rupiah ini menyedot pengunjung ratusan ribu setiap harinya. Sejatinya sebuah even budaya skala internasional menampilkan secara keseluruhan budaya Aceh baik permainan rakyat atau tarian-tarian dan lainya.

Berbarengan dengan PKA 5 yang juga diadakan pameran yang menurut panitia pelaksana berskala internasional juga dengan tema “Aceh International Expo” ini ditempat berbeda namun berdekatan. Even ini menyedot perhatian hampir seluruh masyarakat Aceh ditambah lagi publikasi media yang sangat kentara saban hari pada media lokal.

Penyelenggaraan PKA tentulah dimaksudkan sebagai upaya melestarikan kekayaan budaya Aceh dan menjadikannya spirit berperi-kehidupan dalam suatu hubungan universal umat manusia. Orisinalitas kultur keAcehan diakui mengandung sifat humanisme dan bermuara pada maujud sosial yang amat dinamis. Itulah akar kekuatan Aceh sehingga pada ruang dan waktu manapun ia memiliki eksistensi sosial amat kuat dalam rasionalitas egalitarian.


Baca selengkapnya ‘Catatan Dari Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 5′

Popularity: 30%